Konsep Tasawuf Dalam Islam

Posted on
(Artikel terakhir diupdate pada: March 12, 2021)

Mengenal Konsep Tasawuf Dalam Agama Islam

Kata Tasawuf dilihat dari segi bahasa memiliki arti yang bermacam-macam. Adapun pendapat yang paling umum tentang asal muasalm kata tasawuf adalah bahwa kata itu berasal dari Suf (صوف) dalam bahasa Arab yang berarti wol.

Pengertian ini merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para sufi pada masa lalu. Namun kenyataannya tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian yang terbuat dari wol.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari kata saf, yang berarti barisan dalam sholat.

Ada juga tinjauan etimologis lain yang menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti “kemurnian”.

Hal ini yang kemudian menjadi penekanan pada ajaran Sufisme terhadap kemurnian hati dan jiwa. Ada juga teori lain yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie yang artinya adalah ilmu ketuhanan.

Tasawuf dalam tinjauan istilah punya makna yang bermacam-macam. Menurut Junaid al-Baghdadi misalnya, tasawuf adalah “memutuskan hubungan dengan semua makhluk dan untuk memilih bersama dengan Allah SWT.”

Menurut Maruf Karhi tasawuf berarti “Mengambil kebenaran sebagai dasar dan melepaskan harapan dari hal-hal yang dimiliki orang. Siapapun yang belum menyadari Fakr (kefakiran) dalam jiwanya maka tidak akan dapat mencapai kebenaran tasawuf.”

Sufisme dalam tinjauan ilmu adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun kekuatan lahir dan batin serta sebagai ilmu yang bertujuan untuk memperoleh kebahagian yang abadi.

Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud atau menjauhi hal duniawi dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme atau kesufian dalam Islam.

Konsep Tasawuf Dalam Islam

Dalam agama Islam, tasawuf punya konsep yang mendalam karena memang tasawuf ini telah dikembangkan sedemikian rupa oleh para ulama.

Beberapa konsep tentang tasawuf telah diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok seperti maqom, ahwal, dan manzil dalam konsep tasawuf klasik dijelaskan menurut beberapa konsep seperti di bawah ini:

1. Menyembah Allah Seakan-akan Melihat-Nya

Konsep “menyembah seolah-olah melihat Tuhan, atau menyembah dengan perasaan bahwa Tuhan melihat kita”, yang dinyatakan sebagai “penganugerahan” dalam sebuah hadits, telah dianggap sebagai tanda konsep murakabah (mendekat kepada Allah).

Dalam menyembah Allah ini juga ada istilah ‘abd atau penghambaan. Kata yang berasal dari akar kata “Abd” ini mencakup segala macam tindakan dan perilaku yang diridhoi Allah dalam tasawuf.

Hal ini karena memang tujuan diciptakannya manusia adalah untuk menyembah Allah. “Aku telah menciptakan manusia dan jin tidak lain agar mereka menyembah-Ku.” (al-Zariyat, 51/56).

2. Konsep Takwa

Arti kata takwa ini adalah “dilindungi dari bahaya”. Dalam pengertian tasawuf, taqwa berarti membersihkan hati dari dosa.

Menurut pengertian lain, taqwa juga bisa berarti ketaatan kepada Allah dan menghindari maksiat kepada Allah.

Dengan kata lain, taqwa berarti “menjauhkanmu dari hal-hal yang menjauhkanmu dari Allah.”

Hal ini juga diungkapkan oleh para sufi sebagai menjaga batas dan janji kesetiaan. Inti dari taqwa adalah pertama-tama menghindari syirik, kemudian dari perbuatan buruk dan berdosa, kemudian dari perbuatan yang cenderung menjadi dosa, dan kemudian meninggalkan hal-hal yang berlebihan dan tidak perlu.

3. Konsep Wara’

Wara secara bahasa berarti menjauh. Agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang haram dan terlarang, maka seseorang harus menghindari hal-hal yang masih syubhat atau mendatangkan keraguan.

Wara’ secara sederhana juga bisa berarti meninggalkan perkara haram dan syubhat. Para ulama juga ada yang memaksudkan wara’ dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan perkara mubah yang berlebih-lebihan, juga meninggalkan perkara yang masih samar (syubhat).

BACA JUGA:  Lirik Teks Syiir Busyro Lana Nilnal Muna - Latin, Arab dan Artinya

Dalam ungkapan kata lain juga disebutkan bahwa salah satu bentuk perbuatan wara’ adalah memperhatikan apa yang masuk dan keluar dari hati dan mulut dan selalu memperhatikan pada hal-hal yang Allah dan Rasul cintai.

Dalam hadis disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

Wara dianggap sebagai awal dari zuhud. Wara tidak disebutkan dalam ayat-ayat Alquran. Namun, hal itu disebutkan berkali-kali dalam hadits nabi.

Dalam hadits, konsep ini umumnya digunakan untuk menghindari hal-hal yang haram dan syubhat atau mencurigakan kehalalannya.

Para sufi mengatakan bahwa Nabi kita bersabda: “Saya belum pernah melihat cara yang lebih mudah dan lebih kuat daripada warâ.” (Bukhari) ”

Tinggalkan apa yang membuatmu ragu, lihatlah orang yang tidak ragu!” (Bukhari). beliau menyatakan bahwa menerapkan wara secara sensitif akan menghasilkan rasa intuisi dan sensasi yang akan membantu seseorang untuk mengenali dosa dan hal-hal yang syubhat.

4. Konsep Taubat

Tobat; Itu berarti berpaling dari dosa dan berbalik kepada Tuhan. Ini umumnya dianggap yang pertama dari otoritas mistik. Dalam tasawuf, taubat dianggap sebagai mengembalikan pada apa yang dipuji oleh syari’at.

Nabi Muhammad Saw. mendefinisikan pertobatan sebagai penyesalan.

Dalam tasawuf, agar taubat menjadi sah, maka tautab itu perlu memiliki tiga prinsip berikut yang berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang dan masa depan:

1. Penyesalan atas dosa yang dilakukan (masa lalu)

2. Menyingkirkan dosa di masa sekarang (hal)

3. Bertekad untuk tidak kembali pada dosa (di masa depan)

Taubat telah dipelajari dalam tiga derajat oleh beberapa sufi:

1. Pertobatan : Untuk meninggalkan dosa sambil takut akan hukuman Allah. Ini langkah pertama.

2. inabah : Allah berbalik kepada-Nya dengan mengandalkan pahala dan pahala. Itu adalah titik tengah pertobatan.

3. Aba (taubat) : Untuk mendapatkan persetujuan Tuhan dan berbalik kepada-Nya saja. Ini yang paling maju. [10)

5. Konsep Dzikir

Kata “Tidak lupa” berarti mengingat atau ingat. Dalam Alquran, dzikir umumnya digunakan dalam arti seperti “shalat” dan “Quran”.

Hal ini karena dzikir digunakan dalam arti selalu mengingat Allah sesuai dengan makna katanya, yaitu selalu mengingat dan tidak pernah melupakan Dia.

Keutamaan dzikir juga disebutkan dalam hadits. Para ulama tasawuf, berdasarkan ayat dan hadits, menganggap dzikir sebagai “dasar madzhab”.

Dzikir digambarkan sebagai ibadah terbesar yang memungkinkan hamba untuk mendekati Tuhannya.

Namun, berbagai pandangan dan praktik telah muncul mengenai cara berdzikir dilakukan secara diam-diam atau secara eksplisit.

Beberapa madzhab sufi yang sangat mementingkan dzikir secara individu dan kolektif dalam perjalanan sejarahnya, mengembangkan metode yang berbeda sehubungan dengan pelaksanaannya.

6. Konsep Muraqabah

Konsep muraqabah meiliki arti mengendalikan dalam bahasa dan kata ini disebutkan dalam berbagai bentuk dalam Alquran.

Sebagai konsep tasawuf, murakabah berarti bahwa hamba itu tahu bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa bagi hatinya dan dunia batinnya, dan karena itu ia akan memurnikan hatinya dari pikiran buruk yang akan menghindarkannya dari ingatan kepada Allah.

Artinya dengan muraqabah ini seseorang akan terus menerus merenungkan tujuan mendekat kepada Tuhan baik di dalam batin maupun di luar batinnya.

BACA JUGA:  Manfaat Menjadi Orang Jujur Dalam Agama Islam

7. Konsep Itminan

Arti kamus dari kata itminan dapat diungkapkan sebagai tenang setelah kebosanan dan pulih setelah kebingungan.

Konsep ini, yang disebutkan di tiga belas bagian dalam Al-Qur’an, berarti bahwa hati dan hati bergantung pada sesuatu dan mencapai kedamaian dengan keyakinan ini.

Itu adalah berpaling kepada Allah tanpa keraguan di dalam hati yang dibimbing oleh mistisisme. Ini adalah keadaan mereka yang percaya diri, yang hatinya luar biasa, yang memiliki keyakinan, yang memiliki kedalaman dalam sains, yang jernih pikiran dan yang esensinya kokoh.

8 Konsep Jujur (Sidiq)

Artinya adalah hal-hal seperti kejujuran, kebenaran, dan kebersihan hati. Sidiq ini adalah konsep yang oleh para ulama kalam dianggap sebagai konsep kenabian.

Menurut pernyataan Ghazali, kejujuran harus ada dalam ucapan, niat dan kemauan, serta ketekunan dan perbuatan.

9. Konsep Ikhlas

Untuk membuatnya bersih dan murni berarti memilih, membuat pengabdian yang sepenuh hati. Beribadah dan melakukan sesuatu semata-mata untuk Allah berarti membersihkan mereka dari pikiran lain. Itu adalah inti dari keyakinan keesaan.

Ihlas kebalikan dari mimpi dan itu untuk menjauhkan hati dari pikiran yang akan mengganggu kebersihannya. Sehl b. Alasan sulitnya ihlas, yang digambarkan Abdullah Tüstarî sebagai “perbuatan paling serius bagi orang-orang”, adalah karena tidak ada bagian jiwa.

Juneyd Bagdadî mengatakan hal berikut tentang ketulusannya: “Ihlas adalah rahasia antara hamba dan Allah. Malaikat tidak mengenalnya sehingga dia akan menulis perbuatan baik. Setan tidak bisa berbahagia kepadanya sehingga dia bisa mengalahkannya, semangat dan semangat tidak akan memperhatikan dia sehingga dia akan condong ke dirinya sendiri.”

10. Konsep Sabar

Kesabaran berarti meninggalkan kesedihan, masalah dan kesedihan. Kesabaran adalah konsep moral dalam tasawuf dan juga posisi. Kesabaran terjadi di dua tempat:

a. Dalam tindakan sukarela hamba

b. Pada saat kesusahan dan malapetaka di luar kehendak hamba

Kesabaran adalah kata sifat manusia. Di saat yang sama, dibutuhkan kesabaran untuk hal-hal yang menyenangkan. Kesabaran adalah mengandalkan dan tidak mempercayai mereka.

Kesabaran mencakup semua posisi, keadaan, moral, perbuatan dan keadaan. Jadi tidak ada yang di luar kesabaran; Karena kesabaran adalah otoritas paling umum dalam hal penilaian dan temperamen paling komprehensif yang berlaku. Tidak ada yang lengkap tanpa kesabaran.

Keadaan pemilik amanah dijelaskan sebagai berikut: Dia telah mencapai ketenangan pikiran tanpa harapan atau harapan dari para hamba, telah berhenti mengkhawatirkan tentang apa yang mereka miliki, meninggalkan keserakahannya dan mengabdikan hatinya kepada Allah, yang merencanakan segalanya dan membuat hati membentuk dari bentuk ke bentuk, dan Allah ada di balik segalanya. Siapapun yang bisa berkata demikian

11. Tawakkal

Dalam kamus, itu berarti merujuk pekerjaan Anda kepada seseorang, memercayai jalan dari hati. Ini adalah iman seorang hamba yang percaya bahwa tidak ada agen selain Allah di dalam hatinya dan bersandar pada-Nya. Tawakal telah dipahami dalam berbagai cara di lingkungan tasawuf sejak zahid-sufi pertama.

Menurut para sufi, kepercayaan terjadi dalam tiga derajat karena ini adalah pekerjaan hati dan rasa percaya:

a. Seorang hamba percaya kepada Allah seolah-olah dia memiliki kepercayaan pada wakilnya sendiri

b. Hamba berpaling kepada Tuhan, seperti anak kecil yang tidak lain adalah ibunya.

c. Kepatuhan hamba kepada Allah seperti daun di depan angin

Ada juga yang membagi kepercayaannya menjadi tiga yaitu penyerahan, penyerahan dan tafviz. Kepatuhan berarti percaya pada janji Allah, berserah diri , puas dengan ilmu-Nya, dan menyetujui penghakiman Allah.

BACA JUGA:  Hukum transfusi Darah Dalam Islam

Keadaan pemilik amanah dijelaskan sebagai berikut: Dia telah mencapai kedamaian pikiran tanpa harapan atau harapan dari para hamba, telah berhenti mengkhawatirkan tentang apa yang mereka miliki, meninggalkan keserakahannya dan mengabdikan hatinya kepada Allah, yang merencanakan segalanya dan membuat hati membentuk dari bentuk ke bentuk, dan Allah ada di balik segalanya.

12. Bersyukur

Pujian adalah memikirkan orang yang memberi berkat, mengakui berkat-Nya, dan mengakui serta memuji-Nya atas pemberian ini dan menggunakan anugerah itu ke arah yang ditunjukkan oleh-Nya. Dengan kata lain, itu adalah untuk mengungkapkan berkah pemberi dengan tunduk kepadanya.

Ghazali menggambarkan rasa terima kasih kepada seseorang dari rakyat dengan contoh pemberian kuda oleh sultan: Orang yang beruntung seperti itu kemungkinan besar akan bersukacita untuk tiga orang. alasan: a. Karena dia punya kuda, b. Karena Sultan mengingat dirinya sendiri, c. Untuk melayani sultan dengan kuda ini.

Oleh karena itu, bersyukur juga berarti menggunakan nikmat yang telah Allah berikan, sebagaimana yang telah Allah tunjukkan dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

13. Ridha

Kesenangan berarti suka, izin, izin dan ketaatan. Itu adalah penyerahan seorang hamba tanpa keberatan dengan penghakiman ilahi. Persetujuan dianggap sebagai otoritas tasawuf puncak. Ini memiliki dua dimensi:

a. Hamba itu senang dengan Allah

b. Persetujuan Tuhan atas hamba itu

Dia menanggapi dengan persetujuan. Ini adalah puncak pahala dan timbal balik dan puncak rahmat ilahi. Diketahui bahwa ada hubungan antara persetujuan dan cinta.

Karena pencinta tidak merasakan sakit dari kekasihnya. Persetujuan adalah berserah diri pada arus takdir dalam segala hal, menyambut setiap situasi dengan indah dan menyerah mengeluh kepada orang lain tentang kecelakaan Allah.

14. Fakir

Artinya tidak adanya apa yang dibutuhkan. Dalam tasawuf, seorang hamba tidak melihat keberadaan apapun dalam dirinya, menyerahkan segalanya kepada Tuhan, dan menerima bahwa pribadi, perbuatan, keadaan dan posisinya adalah rahmat Allah. Pemilik sejati segalanya adalah Tuhan. Itulah sebabnya semua makhluk membutuhkannya.

Ketika sâlik [pengelana di jalan mistisisme] mencapai posisi ini, jiwa dibebaskan dari catatan penyimpangan dan perhatian pada hal-hal lain. Mencapai posisi faq yang sebenarnya berarti kembali ke kebenaran.

Dalam tasawuf, arah umumnya digunakan dalam hubungannya dengan mukjizat dan sering ditekankan bahwa “yang diharapkan dari hamba adalah arah, bukan mukjizat”. Sebab, menurut para sufi, arahan dianggap sebagai ruh yang memberi kehidupan pada perbuatan dan menyucikan keadaan.

15. Zuhud

Itu berarti mengambil segala sesuatu selain Allah dari hati, tidak menghargai, tidak bersukacita dalam keberadaan, atau berduka tanpa alasan, menjadi jenius di sisi Allah dan menjadi orang suci di sisi Allah.

Zuhud adalah bentuk pertama tasawuf. Menurut para sufi, itu adalah merosotnya semua keinginan akan sesuatu.

Oleh karena itu, zahid dianggap sebagai orang yang tidak bersukacita atas dunia yang ada di tangannya dan tidak menyesali apa yang tersisa.

Singkatnya, pertapaan berarti menghindari segala jenis kepolosan dan gosip yang menghalangi keberadaan bersama Allah dan tidak memberi mereka tempat di hati.

 



Gravatar Image
Berbagi beragam informasi menarik dan bermanfaat tentang agama Islam yang semoga bisa menambah wawasan pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *